RSS Feed

Sabtu, 04 September 2010

Adat Kebiasaan Melahirkan Bayi

Peristiwa kelahiran itu bukan hanya merupakan proses  yang  fisiologis belaka, akan tetapi banyak pula diwarnai komponen-komponen psikologis. Jika seandainya kelahiran itu  cuma fisiologis saja sifatnya, dan kondisi organisnya juga normal, maka pasti proses berlangsungnya akan sama saja di mana-mana dan pada setiap wanita, serta tidak akan mempunyai banyak variasi. Sedang pada kenyataannya, aktivitas melahirkan bayi ini cukup bervariasi. Dari yang amat mudah dan lancar sampai pada yang sangat sukar, baik itu normal maupun abnormal dengan operasi SC dan lain-lain.
Banyak orang berspekulasi tentang mudah atau sulitnya aktivitas melahirkan bayi itu, dengan memperbandingkan prosesnya dengan berbagai suku bangsa yang mempunyai bermacam-macam budaya. Orang menyebutkan beberapa faktor penyebab dari mudah sulitnya aktifitas melahirkan bayi, antara lain ialah :
a.       Perbedaan iklim dan lingkungan sosial, yang mempengaruhi fungsi-fungsi kelenjar endokrin. Dan kelenjar endokrin ini sangat penting fungsinya pada saat melahirkan bayi.
b.      Cara hidup yang baik atau cara hidup yang yang sangat ceroboh dari wanita yang bersangkutan, sebab cara hidup tersebut terutama cara hidup sexualnya mempengaruhi kondisi rahim dan organ genitalnya.
c.       Kondisi otot-otot panggul wanita.
d.      Kondisi psikis/kejiwaan wanita yang bersangkutan.
Banyak peneliti menyatakan, bahwa otot-otot panggul wanita-wanita primitif itu lebih efisien dari pada otot panggul wanita modern yang serba “manja” sebab wanita-wanita dengan kebudayaan primitif itu hidupnya lebih aktif dan kerjanya jauh lebih berat guna menghadapi tantangan alam, jika dibandingkan dengan wanita modern yang hidup dalam kebudayaan tinggi dengan macam-macam komfort dan fasilitas. Kerja berat dan kehidupan aktif jelas memperkuat otot-otot panggulnya, sehingga memudahkan proses kelahirannya.
Sedang kebudayaan modern yang tinggi sekarang ini menyebabkan timbulnya pengaruh yang sangat melemahkan dan inhibitif terhadap otot-otot panggul juga terhadap aktifitas melahirkan anak. Lagi pula sebagai penduduk pemeluk norma-notrma tradisional secara ketat wanita-wanita primitif memiliki toleransi lebih besar terhadap penderitaan dan rasa sakit ketika melahirkan bayinya. Dengan demikian secara sepintas lalu proses melahirkan pada wanita-wanita primitif itu lebih mudah dan lebih cepat. Dan proses-proses reproduksi pada mereka itu kelihatannya lebih simpel-sederhana, jika dibandingkan dengan proses reproduksi pada wanita-wanita modern yang mengalami  “proses degeneratif” diakibatkan oleh kebudayaan yang memberikan banyak kemudahan dan kemanjaan, yang menyebabkan tubuh dan mentalnya kurang tertempa/terlatih untuk fungsi reproduksi atau melahirkan anak bayinya.
Proses kelahiran pada wanita-wanita daerah Tenggger di pegunungan bromo jarang berlangsung sangat lama. Biasanya berproses sekitar satu atau dua jam saja. Pada beberapa suku-suku primitif di tanah batak daerah kalimantan (suku dayak), Kubu (daerah sumatra selatan) dan di irian jaya serta suku-suku primitif di benua Australia, proses kelahiran itu biasanya berlangsung beberapa menit saja.ibu yang baru melahirkan itu segera memandikan tubuhnya sendiri dan bayi yang baru dilahirkannya di sungai yang paling dekat, lalu kembali pada tugas pekerjaanya yang terpotong atau terganggu oleh aktifitas melahirkannya tadi. Seolah-olah tidak ada suatu peristiwa penting yang terjadi pada dirinya.
Jika seorang wanita suku primitif yang tengah hamil itu tiba-tiba merasakan tanda-tanda mau melahirkan, suatu ia akan melakukan perjalanan jauh maka ia berhenti sebentar untuk menolong kelahiran bayi dan diri sendiri, lalu meneruskan lagi perjalanannya sampai ia tiba di tempat yang ingin ditujunya.
Biasanya proses melahirkan itu banyak dipengaruhi oleh proses identifikasi wanita yang bersangkutan dengan ibunya. Jika ibunya mudah melahirkan anak-anaknya maka pada umumnya anak-anak gadisnya kelak juga mudah melahirkan bayinya. Dengan demikian pengaruh-pengaruh psikologis ibu ikut memainkan peranan dalam fungsi reproduksi anak perempuannya. Dan sebaliknya jika ibunya banyak mengalami kesulitan sewaktu melahirkan anaknya maka anak gadisnya juuga mengembangkan mekanisme sulit melahirkan bayinya. Maka proses identifikasi itu tampaknya menyebabkan wanita yang bersangkutan menyerah mengikuti pola melahirkan bayi yang dikembangkan oleh ibunya.
Fakta menunjukkan bahwa baik dikalangan wanita yang berkebudayaan primitif maupun dikalangan wanita-wanita modern di kota-kota besar, sering kali berlangsung peristiwa sebagai berikut : para wanita tersebut ada kalanya dihadapkan pada gangguan-gangguan yang cukup serius dan macam-macam kesulitan sewaktu mereka melahirkan bayinya. Kesulitan tersebut kadang kala mengakibatkan wanita-wanita tadi menjadi invalid atau meninggal dunia. Proses kelahiran yang sulit inilah yang mendorong orang untuk mengembangkan ilmu kebidanan dan kedokteran, guna memperingan penderitaan para ibu yang tengah melahirkan bayinya.

1 komentar:

Ririn Fauziyah mengatakan...

trimakasih ...artikel ni sngat membantu...

Poskan Komentar